Jumat, 04 Mei 2012

Masyarakat Solo Tersentuh Film KvsK





Jalan di Desa Kenteng, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (28/4) malam lalu di ‘sulap’ jadi tempat tontonan. Di bawah sebuah tenda sederhana dan beralaskan tikar, sebanyak 150 warga Kenteng nobar film Kita versus Korupsi (KvsK). Usai menyaksikan film berdurasi 70 menit ini, warga yang terdiri dari anak-anak, kalangan anak muda dan orang tua ini disuguhi pertunjukkan Ketoprak Ngampung Balekambang dengan lakon tentang korupsi.

Inilah kegiatan pertama roadshow KvsK di Solo selama empat hari, Sabtu hingga Selasa (01/5). Acara diselenggarakan oleh Club Indonesia Bersih (CIB) bekerja sama dengan Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Surakarta, mengusung tema “Membangun Kesadaran Publik tentang Bahaya Korupsi”.

Di hari kedua, roadshow dimulai dengan public campaign di kawasan Solo Car Free Day pada pukul 07.00. Selain promosi pemutaran film, tim panitia mengadakan ceremony berupa penyerahan sapu untuk menyapu kertas bergambar wajah-wajah koruptor yang bertebaran di jalanan. Dan juga aksi penandatanganan anti korupsi di spanduk sepanjang 10 meter. Setidaknya 100 pengunjung dari berbagai sekolah ikut terlibat dalam kegiatan ini.

Penonton Tersentuh



Pada pukul 10.00, acara dilanjutkan dengan pemutaran dan diskusi film KvsK di Empire XXI Solo Square. Sebanyak 190 penonton dari berbagai kalangan hadir. Diantaranya pelajar dan mahasiswa, jajaran birokrasi pemerintahan, budayawan dan seniman, aktivitis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan penggiat anti-korupsi serta masyarakat umum.





Dalam sesi diskusi dengan nara sumber Sekretaris Jenderal Transparency International (TI) Indonesia Teten Masduki, produser film KvsK Abduh Azis, sutradara film KvsK Lasja F Susatyo dan pemain film KvsK Teuku Rifnu Wikana, seorang penonton melinangkan air mata. Tantowi, seorang anggota DPRD Boyolali ini dengan terbata-bata menyatakan sangat mengapresiasi film KvsK. “Film ini sangat menyentuh. Saya mengira korupsi itu hanya terjadi di politik, tetapi film ini menampilkan hal yang berbeda. Saya ingin memutar film ini dari desa ke desa,”ungkapnya.

Usai pemutaran film,  tim panitia menggelar konferensi pers dengan media setempat di Hotel Indah Palace. Hadir sebagai narasumber Lasja F Susatyo dan Teuku Rifnu. Dan malam harinya, giliran film KvsK diputar di halaman kantor Surat Kabar Harian Joglo Semar, Solo. Sebanyak 130 penonton dari berbagai kalangan hadir, diantaranya mahasiswa, anggota DPRD dan masyarakat umum.

Diskusi film menghadirkan nara sumber Indraza Marzuki dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abduh Azis, Lasja  F Susatyo, dan Teuku Rifnu Wikana. Seorang anggpta DPRD Boyolali Kasno berpendapat, undang-undang lah yang mendorong masyarakat untuk berkorupsi. Ia mencontohkan undang-undang pemilihan kepala daerah. “Jika undang-undang masih seperti sekarang, jangan harap film ini akan membawa perubahan 30-40 tahun ke depan,”ujarnya.

Salah satu peserta, Setiawan menyatakan film KvsK memberikan pencerahan dan gambaran dari contoh contoh sederhana yang terjadi di masyarakat. “Kita sudah dicengkram oleh sistem yang semuanya serba uang. Untuk memutus mata rantai korupsi, kita harus memulai dari mana? Sebagai PNS, saya ingin melawan sistem, tetapi jika berjuang sendirian akan ditindas,”kata Setiawan.


Butuh Gerakan Masyarakat



Memasuki hari ketiga roadshow, tim panitia berkunjung ke kantor Solo TV dan sekaligus melakukan rekaman talk show dengan tema film KvsK dan korupsi. Hadir sebagai narasumber Indraza Marzuki, Abduh Azis, Lasja F Susatyo, dan Dwipoto dari TI Indonesia. Kunjungan media lalu dilanjutkan ke Harian Solopos dan talk show di Solopos FM  dengan narasumber Indraza Marzuki dan Abduh Azis.

Tim panitia selanjutnya menggelar diskusi publik dengan tema “Masa Depan Penanganan dan Pencegahan Korupsi” di Gedung Muhammadiyah, Solo. Hadir sebagai narasumber Indraza  Marzuki, Dwipoto Kusumo, Supato dari Polresta Solo, dan Tantowi, anggota DPRD Boyolali. Malam harinya, di tempat sama, dilakukan pemutaran film KvsK dan dihadiri 67 penonton.

Abduh Azis menyatakan film KvsK bertujuan merenungkan kembali nilai-nilai yang kita pegang. Ia berharap film ini bisa bicara, meskipun tidak akan menyelesaikan masalah secara cepat. “Karena film ini tidak bisa berdiri sendiri, maka harus ada gerakan  juga dari masyarakat untuk melawan korupsi,”katanya pada diskusi usai pemutaran film. Selain Abduh, hadir nara sumber lain Lasja F Susatyo dan Teuku Rifnu Wikana.

Sebagai pamungkas, pemutaran film KvsK diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Solo, Selasa (01/05) pada pukul 10.00.  Acara ini dihadiri 63 penonton. (SS/RSD)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kita vs Korupsi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger