Selasa, 24 April 2012

Sesuatu yang Besar Berawal dari Sesuatu yang Kecil


Oleh: Bellanissa Brilia Zoditama, mahasiswi Telkom Institute of Management Bandung.



Hari Kamis kemarin, 12 April 2012 saya diberi kesempatan untuk menonton langsung sebuah film yang berjudul “Kita vs Korupsi” di XXI Empire, Bandung Indah Plaza.

Film Kita Vs Korupsi adalah sebuah film yang terdiri dari 4 cerita dan 4 sutradara. Durasi film ini ‘hanya’ 70 menit, terlalu singkat untuk film yang diputar di bioskop, dan menelan dana 1,2 M, termasuk murah dengan pembuatan film yang biasanya menghabiskan sampai 5 M. Padahal pemain dan pengisi musiknya adalah orang-orang yang terkenal di negeri ini. Sebut saja, Nicholas Saputra, Revalina S. Temat, Ringgo Agus, Efek Rumah Kaca, dan The Flowers.

Bila kebanyakan film adalah sebuah fiksi yang difilmkan, film ini adalah sebuah refleksi nyata yang ada di negeri kita, tentang Korupsi. Siapa sih yang gak tau tentang korupsi? Jadi mari baca review saya tentang film ini. Tapi sebelumnya saya minta maaf karena saya lupa sama setiap judul cerita.

Cerita pertama: tentang seorang kepala desa dengan seorang delevoper.

Cerita tentang kepala desa ini melakukan sebuah ‘kerja sama’ dengan seorang developer perumahan untuk membangun sebuah real estate di desanya itu. Dengan iming-iming tentu saja. Semua penduduk di desa itu disuruh pergi meninggalkan desa, dan hanya tersisa seorang janda yang masih menetap di sana.
Akhirnya karena bingung mengusir janda itu, bawahan-bawahan sang developer melakukan cara tercepat dan termudah dengan membakar rumah sang janda, padahal janda itu sedang berada di dalam rumah. Hal yang paling miris terjadi di akhir film, dimana anak dari kepala desa pergi ke rumah janda itu untuk mencari ayahnya, dan dia juga ikut terbakar disana.

Cerita kedua: tentang seorang muda-mudi yang ingin kawin lari.

Cerita seorang muda-mudi (Nicholas Saputra dan Revalina S. Temat) ingin menikah diam-diam. Ketika mereka sampe KUA, mereka nggak bisa langsung menikah karena surat kesahannya nggak lengkap. Si cowok mengusulkan untuk menempuh jalan pintas, dengan pake calo supaya mereka menjadi sah sebagai suami-istri. namun cewek itu nggak mau karena itu termasuk salah satu tindak yang dekat dengan korupsi yaitu nepotisme, dan dia sangat anti yang namanya korupsi, karena Ayahnya adalah seorang pegawai negeri yang sempat melakukan korupsi sertifikasi guru. Salah seorang guru yang ditangani sertifikasi oleh Ayah cewek tersebut adalah guru sekolahnya. Namun guru itu yang masih berstatus sebagai guru honorer, tidak memberikan ‘uang pelicin’ sehingga dia tidak menjadi guru tetap dan akhirnya keluar dari sekolah itu dan meninggal dunia.

Guru tersebut, yang diperankan oleh Ringgo, berpesan bahwa “Kamu adalah cerminan dari rumahmu…”
Jadi kalau kamu sudah melakukan kebohongan di rumah, akan berdampak pada hal-hal yang lain di sekitarnya.

Cerita ketiga: tentang seorang pegawai yang akan disuap.

Cerita ini hampir mirip dengan cerita pertama, namun setting tempatnya berada di Jakarta, dan tokoh utamanya adalah seorang perempuan. Seperti cerita pertama, seperti ada seorang developer yang ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan tempat perempuan itu bekerja, dan akan ada timbal-balik uang kalau proyek itu berhasil.

Namun, sebelum perempuan itu mengiyakan, dia teringat tentang masa lalunya, tentang Ayahnya, yang seorang pegawai yang jujur. Di cerita ini kita kembali dibawa ke taun 80/90-an di era zaman Soeharto dan semuanya serba terbatas. Saat itu, sedang terjadi krisis beras, dan ada seorang pengulak yang ingin menimbun beras di gudang milik ayah si perempuan.

Sang Ayah menolak mesti diiming-imingi uang banyak, karena dia konsisten dengan kerjanya. Padahal kondisi kehidupan mereka juga sedang pas-pasan.

Kembali ke masa sekarang, di akhir cerita si perempuan mengatakan, “Maaf saya tidak bisa.”

Cerita keempat: tentang Anak SMA

Dari keempat cerita di film ini, cerita keempat adalah cerita yang paling segar sekali karena selain bercerita tentang kehidupan SMA, cerita ini dekat sekali dengan kisah saya semasa SMA. Hahaha…

Cerita utama terletak pada Olla yang sedang direkam kegiatannya oleh Gita yang baru membeli handycam baru. Ketika di kantin Olla bertemu dengan Echi yang sepertinya bendahara kelas yang sedang mengumpulkan uang buku yang dijual oleh salah satu guru. Lalu dari situ, tersebar bahwa ada korupsi di lingkungan sekolah antara oknum guru tersebut, Echi dan juga Olla. Ini cerita yang bisa membuat saya tertawa, karena memang pas dan nyata sekali.

Bagi yang pernah menonton Jakarta Magrib, tentu tidak akan merasa asing dengan konsep cerita yang berbeda dalam satu film. Namun perbedaannya, di film ini tidak ada kaitan antara cerita yang satu dengan cerita yang lain seperti Jakarta Magrib.

Kalau dari skala 1-5, saya memberikan nilai 4.5 karena meski ceritanya bagus tapi cenderung masih terlihat mentah, dan terlalu terburu-buru. Dari film ini, saya dapat menarik pelajaran bahwa korupsi adalah sesuatu yang dekat dengan kita seperti hidung dan mulut, atau nadi dengan jantung. Dan sadar ataupun tidak sadar, kita juga sering melakukannya. Coba siapa yang sering naikin uang buku pas sekolah dulu?! Ayo ngaku…

Saya harap banyak menonton film ini, terutama para pejabat yang berdasi dan berjas itu, supaya mereka sadar bahwa korupsi adalah perbuatan yang tercela sekali.

Ada satu kata-kata yang masih saya ingat sampai sekarang,
“Sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil…"

Sumber: Briliaz

0 komentar:

Posting Komentar

 

Kita vs Korupsi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger