Rabu, 18 April 2012

KvsK: Cerita-cerita Sederhana Bermakna Luar Biasa


Oleh: Odagoma Rsjr, Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI



Siapa yang menduga di tengah-tengah dunia korupsi yang sedang melakukan ekspansi dan menancapkan hegemoninya di Indonesia, di antara keraguan masyarakat yang semakin memuncak terhadap para penegak hukumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih bisa menghasilkan propaganda yang segar dan out of the box. Bersama Transparency International Indonesia, Anti Corruption Information Centre (ACIC) dan para pekerja film yang peduli akan pemberantasan korupsi di Indonesia, KPK memproduksi sebuah film berjudul Kita versus Korupsi.


Kita versus Korupsi diproduksi dengan konsep omnibus, konsep yang perkembangannya saat ini sedang menggeliat di dunia film Indonesia. 4 film di dalamnya adalah antologi dari cerita-cerita  terbaik sayembara yang diselenggarakan KPK sebelumnya. 4 film pendek dari 4 sutradara dengan 4 cerita yang berbeda. Namun, semuanya berada dalam satu jalinan benang merah yang sama: kita melawan korupsi.

Film pertama adalah “Rumah Perkara”dari Emil Heradi. Bercerita tentang Yatna (Teuku Rifnu Wikana), seorang lurah yang menjual tanah desanya kepada seorang pengusaha untuk dijadikan lapangan golf. Penjualan tanah desa tersebut terhalang oleh Ella (Ranggani Puspandya), seorang janda yang kukuh mempertahankan tanahnya. Film ini menggambarkan pengaruh korupsi yang sangat luas sampai ke dalam pedesaan. Film ini juga menggambarkan pemimpin-pemimpin yang seringkali lupa akan janjinya. Emil dengan sangat baik menggambarkan pergolakan batin individu-individu yang ada dalam cerita ini secara dramatis dengan menampilkan semua konflik bersamaan di akhir cerita. Pembakaran rumah Ella, janji Yatna untuk melindungi desa saat kampanye, kenekatan anak Yatna masuk ke dalam rumah yang telah terbakar untuk menyelamatkan Ella yang telah menemaninya bermain, semuanya berkumpul menjadi satu membentuk sebuah akhir yang dramatis.

Jika film pertama menceritakan kehidupan pedesaan, film kedua berjudul “Aku Padamu” karya Lasja F. Susanto bercerita tentang kehidupan perkotaan. Gelora asmara anak muda masa kini yang diwakili oleh Vano (Nicholas Saputra) dan Laras (Revalina S Termat) tergambar dengan jelas di sini. Vano dan Laras ingin menikah tanpa sepengetahuan orang tua Laras. Hasilnya, keinginan mereka terhambat urusan kartu keluarga, dan calo pun menjadi pilihan Vano untuk mempercepat penyelesaian masalah tersebut. Di sinilah kemudian muncul kekuatan film ini. Laras ternyata bukanlah sekadar anak muda zaman sekarang yang biasa. Dalam dirinya tertanam nilai-nilai anti suap yang diwariskan oleh guru panutannya saat SD (Ringgo Agus Rahman), seorang guru honorer yang rela hidup susah hingga akhir hidupnya karena tidak mau membayar “uang pelicin” kepada ayah Laras, sang kepala sekolah. Kedua kontras inilah yang dengan baik dimainkan oleh Lasja menjadi kekuatan film ini.

Film ketiga,”Selamat Siang, Risa” adalah arahan dari Ine Febriyanti. Film ketiga ini bercerita tentang seorang penjaga gudang bernama Arwoko (Tora Sudiro) yang tengah dilanda kesulitan ekonomi pada masa Malari (1974). Kebimbangan adalah hal yang sangat sering terjadi ketika kita berhadapan dengan korupsi, begitu pula yang terjadi saat Arwoko menerima tawaran dari seorang penimbun beras untuk menggunakan gudangnya yang saat itu sedang kosong, apalagi seluruh teman-teman dan atasannya telah menerima tawaran tersebut. Pergolakan batin Arwoko tergarap dengan baik dan penuh emosi di sini. Sayangnya, film ini tidak berhenti pada saat yang tepat. Keputusan melanjutkan cerita setelah klimaks agaknya menurunkan emosi yang sudah dengan sangat baik dimainkan oleh Ine.

Film keempat mengangkat sisi yang lebih berwarna. Film berjudul “Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa” ini disutradarai oleh Chairun Nissa. Dengan gaya mockumentary, film ini dengan sangat natural menangkap kehidupan sehari-hari siswi SMA masa kini dengan segala kehebohan dan keceriaanya. Dialognya segar, artistiknya sangat berwarna,  keterusterangannya, khas kehidupan SMA. Berbekal sebuah kamera yang menjadi “mata” film ini, Gita (Alexandra Natasha) menangkap adanya korupsi yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan modus buku paket yang ternyata pembeliannya berpengaruh kepada nilai siswa sesuai dengan “baik-buruknya pembelian”. Tak hanya itu, dari obrolan tentang buku paket ini, terungkap kenyataan-kenyataan korupsi lain yang selama ini sering dilakukan oleh teman-temannya, Ola (Siska Selvi Dawsen) dan Eci (Nasha Abigail), yang telah dianggap biasa oleh keduanya. Mockumentary menjadi sangat lancar bercerita dalam film ini. Dengan jelas tergambar korupsi yang sudah merambah ke segala lini kehidupan dan dianggap biasa. Bahkan, pembicaraannya dilakukan di kantin, tempat yang paling ramai di sekolah, tanpa ada reaksi sedikit pun dari yang berlalu lalang di sekitarnya. Korupsi memang benar-benar telah menjadi biasa. 

Kita versus Korupsi adalah sebuah karya yang patut mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia. Cerita-cerita yang sehari-hari ada di sekitar kita berhasil dikemas dengan sangat baik menjadi cerita yang penuh dengan makna luar biasa. Dengan niatannya untuk menjadi film non-komersil, film ini telah berhasil menjadi lebih dari sekadarnya. Sinematografi adalah salah satu kekuatan utamanya. Alam pedesaan yang indah, kehidupan masyarakat pada tahun 1974, perkotaan, dan warna-warni SMA, semuanya tegambarkan dengan warna-warna yang mengisi hati. Suasana yang dibangun oleh warna-warna tersebut menjadi dunia yang tepat bagi pergolakan batin yang ada di dalamnya. Applause khusus untuk Anggi Frisca, Ical Tanjung, Ipung Rachmat, dan Yunus Patawari yang telah melukiskan itu semua. Selain itu, emosi yang tertuang dengan baik dalam film ini tergambar lewat gestur dan ekpresi yang baik pula dari para pemainnya. Semua itu didukung oleh permainan kamera yang banyak menggunakan gambar close up dan pergerakannya yang tepat, sesuai dengan apa yang sedang terjadi saat itu. Sebagai sebuah propaganda anti korupsi pun Kita versus Korupsi tidak berusaha untuk menceramahi, tetapi bertutur nyata dengan ceritanya. 8 dari 10 bintang dari saya.

Sumber: Kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar

 

Kita vs Korupsi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger