Kamis, 07 Juni 2012

Pencegahan Korupsi Diawali dari Keluarga





Menyaksikan film Kita versus Korupsi (KvsK) seolah menguak sebuah fakta bahwa perilaku korupsi telah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Tak hanya di kalangan pejabat, peluang untuk korupsi juga terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari mulai pemuka agama hingga pelajar/mahasiswa. Demikian terungkap dalam diskusi usai pemutaran film KvsK di Keuskupan Surabaya, Jalan Polisi Istimewa No. 11, Surabaya, Jumat pekan lalu. 

Sebanyak 130 penonton hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Club Indonesia Bersih dan Gusdurian, sebuah komunitas pecinta Gus Dur berbasis di Surabaya. Diantaranya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, pendeta, rohaniwan, dan pendidik. 

Anggota seminari, Pepi mengaku merasakan ‘tusukan’ film KvsK. “Tusukannya sangat dalam dan menohok, scene-nya secara implisit sangat dalam,”ujarnya. Ia mencontohkan di film ketiga berjudul Selamat Siang, Rissa! pada adegan ketika Pak Woko (diperankan Tora Sudiro) dihadapkan pada situasi sulit, tetapi bertahan menghadapi cobaan ‘suap’.  

“Korupsi itu kita sendiri, tidak usah hiprokit,”kata Pepi.

Nino dari Keluarga Mahasiswa Katholik (KMK) ITATS terkesan dengan film kedua berjudul “Aku Padamu” karya Lasja F Susatyo. Seorang gadis menolak ‘nyogok’ pegawai KUA (Kantor Urusan Agama) karena mencontoh keteguhan hati dari sosok guru bernama Pak Markun. 

“Semua yang besar berasal dari yang kecil. Semoga semua keluarga mengindokrin anaknya sejak kecil bahwa korupsi tidak baik dan dosa,”ucapnya.

Integritas Dalam Keluarga

Romo Vikjen mengamini pendapat Nino. Sebagai seorang pastur, ia memiliki umat dari berbagai latar profesi seperti pejabat dan polisi. “Saya mau ngurus KTP sesuai prosedur, ternyata tahu-tahu KTP sudah diantarkan ke paroki karena ada pegawai yang Katholik. Jadi ini seperti konspirasi, dilakukan secara bersama-sama,”ungkapnya.  

Menurut Vikjen, kiat untuk menghadang korupsi adalah integritas. “Terima kasih atas pemutaran film ini sehingga saya bisa menggali bahwa nilai yang kita himpun dari ardas yaitu pendampingan anak dimulai dari kejujuran,”lanjutnya.

Niko, filsafat-seminari, menyatakan pada intinya korupsi bisa diatasi dimulai di dalam ranah keluarga, pendidikan, dan media massa. “Ketiga pilar itu termasuk dalam cakupan ranah politik,”ujarnya. Semua orang bisa korupsi, dari pemuka agama sampai bajingan, karena dalam korupsi menawarkan suatu kemudahan atau nilai pragmatis.

“Kita disini diajak melawan korupsi, padahal semua dari kita berakar dari keluarga dan pendidikan. Integritas berasal dari situ. Mengapa orang berkorupsi? Karena ada tawaran instan dan kemudahan,”tandasnya. 

Sementara itu, Ignatius dari Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) Surabaya lebih menyorot peran agama dalam pemberantasan korupsi. “Saat ini, ketika elit kita (aparat penegak hukum) tidak mampu memberantas korupsi maka peran agama perlu,”jelasnya. (Dwipoto Kusumo/RSD)


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Kita vs Korupsi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger