Jumat, 08 Juni 2012

Ada Baiknya Film KvsK Ditonton Keluarga Besar PLN






PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus bertekad mewujudkan komitmennya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bebas korupsi. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan mengajak seluruh karyawan di berbagai wilayah di Indonesia nonton bareng film Kita versus Korupsi (KvsK).

Seperti dilakukan PLN Area Jawa Barat-Banten, Minggu (03/6) lalu, kembali menghadirkan film KvsK di wilayahnya. Kali ini, Area Sukabumi menjadi target nobar dan diskusi tentang integritas karyawan. Pemutaran film ini sendiri menjadi rangkaian kegiatan workshop PLN Anti Pungli. 

Sebanyak 120 pegawai dan outsourcing hadir di Kantor PLN Area Sukabumi, Jalan Bayangkara No. 220, Sukabumi. Dalam sambutannya, Manajer PT. PLN APJ Sukabumi Nono Mulyono mengaku telah berulang kali nonton film KvsK. “Saat pertama kali nonton di BSM (Bandung Super Mall) saya meminta kepada Manajer Area Jabar-Banten untuk menghadirkan film ini di wilayah saya, agar bisa ditonton oleh staf-staf saya,”ujarnya.

Menurut Nono, film KvsK penuh dengan pesan-pesan anti korupsi. “Saya berharap film ini menjadi refleksi kita bersama dalam menjalankan tugas,”pesan Nono.

Ditonton Keluarga

Usai pemutaran film, Wiwin, seorang staf PLN menyatakan terkesan melihat film KvsK. Ia mengusulkan ada baiknya film ini juga di tonton oleh keluarga besar PLN termasuk anak, suami dan istri para staf PLN.

“Korupsi itu terjadi karena adanya kesempatan dan juga kebutuhan. Jadi kalau keluarga melihat film ini mudah-mudahan sama-sama mengerti tentang bahaya korupsi,”ungkapnya.

Lain halnya Adi, sebagai pekerja lapangan, ia mengaku pernah mengalami situasi dimana ia disodori uang oleh pelanggan. “Karena saya pegang teguh kode etik, maka saya tidak ambil dan menolaknya dengan sopan. Mudah-mudahan teman-teman saya juga bersikap sama,”kata Adi.

Menanggapi hal itu, Nono menyatakan apresiasinya. Ia mengingatkan kepada semua karyawan untuk bisa memegang teguh kode etik PLN, bekerja dengan sopan, dan jangan pernah membuka atau memulai percakapan yang di artikan sebagai meminta imbalan dalam melayani. 

“Ingat, PLN Anti Pungli bukan hanya slogan. Tapi harus di jalankan dengan benar,”tegasnya. (Agus Sarwono/RSD)

2 komentar:

purplebl0ssom mengatakan...

Barangkali sudah demikian lama orang menunggu ada yang tergerak untuk membuat sebuah karya, terutama film yang memiliki nilai-nilai semacam ini, yang tentu saja dipublikasikan secara khusus, untuk mendidik masyarakat dari segi kejujuran, memegang idealisme tentang anti korupsi.

Apa yang diangkat di film ini tidak melulu seperti pemberitaan di media mengenai koruptor-koruptor di level atas, melainkan lebih menyentuh hati nurani penonton melalui kehidupan sehari-hari, dimana benar dan salah seringkali jadi beda tipis bahkan menjadi bias karena hal tersebut sudah sangat mengakar. Artinya, ketika kembali diingatkan melalui film ini, masyarakat kemudian menyadari bahwa kejadian-kejadian tersebut begitu dekat dengan mereka.

Semoga akan ada lebih banyak lagi orang-orang hebat yang jujur, kreatif dan kritis dalam melahirkan ide-ide dan karya untuk bangsa. Tidak untuk menghibur, tapi lebih kepada mendidik dan memberikan cerminan realitas yang sesungguhnya kepada para pemilik hati nurani.

Menanamkan sejak awal, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini juga.

Kita vs Korupsi mengatakan...

Terima kasih atas atensinya. Kami setuju dengan pendapat Anda, setelah melihat respon masyarakat yang begitu apresiatif terhadap film Kita versus Korupsi, kami optimis masih ada harapan untuk menularkan virus anti korupsi di masyarakat. Dan saat ini kami sedang mengembangkan konsep-konsep baru, selain film, dalam rangka kampanye bersama anti korupsi.

Poskan Komentar

 

Kita vs Korupsi Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger